Lebah Memiliki Kehidupan Batin

12

Mereka menjulurkan lidah saat bahagia. Setidaknya ternyata.

Untuk waktu yang lama, kami mengira lebah hanyalah robot yang efisien. Drone kecil berdengung, mengumpulkan data, mengabaikan hal lainnya. Penelitian baru menunjukkan bahwa mereka memiliki pengalaman subjektif. Bukan emosi manusia, tapi sesuatu yang nyata.

Serangga tidak memiliki wajah terkulai seperti kita. Tidak ada alis yang terangkat karena terkejut. Tidak ada senyuman. Tubuh mereka adalah cangkang keras. Jadi bagaimana kita tahu kalau mereka merasakan sesuatu? Andrew Barron di Universitas Macquarian di Sydney memutuskan untuk mencari tahu.

Dia bekerja dengan lebah ekor kerbau (Bombus terrestris ).

Berikut pengaturannya: video resolusi tinggi. Tiga cairan. Salah satunya adalah air gula. Dua lainnya adalah garam dan kina. Pahit dan asin. Tidak menyenangkan.

Kapan lebah mencicipi gula? Mereka menjulurkan glossa mereka (itulah lidah mereka yang berbulu). Lagi dan lagi.

Kapan mereka mencicipi garam atau kina? Mereka menyeka mulut mereka. Menggelengkan kepala. Isyarat “tidak, terima kasih” yang jelas.

Interpretasi mudah: Mereka menyukai gula. Mereka tidak menyukai hal-hal yang pahit.

Namun Barron tidak yakin itulah keseluruhan ceritanya. Mungkin itu hanya reaksi kimia. Sebuah refleks. Untuk membuktikan itu adalah keadaan internal, dia harus mengacaukan rasa lapar dan haus mereka.

Dia mengeringkan lebah dengan memaparkannya pada suhu 40°C. 104°F.

Lalu dia menawari mereka air asin.

Biasanya, mereka membencinya. Tapi dehidrasi? Mereka berulang kali mengeluarkan glossanya.

“Itu karena keadaan internal Anda telah berubah… itulah yang kami pikir kami lihat pada lebah.”

Pikirkan tentang hal itu saat Anda selesai berlari lagi. Anda mengambil minuman olahraga. Rasanya tidak enak jika Anda kenyang dan istirahat. Rasanya seperti hidup itu sendiri jika Anda haus. Lebah tidak hanya bereaksi terhadap molekulnya. Ini mengevaluasi nilainya.

Untuk memisahkan “keinginan” dari “kesukaan,” tim menggunakan bahan kimia.

Pertama, dopamin. Pada manusia, dopamin mendorong keinginan untuk mencari imbalan. Ketika lebah mendapat dosis dopamin, motivasi mereka untuk mencari makanan mungkin meningkat, tetapi lidah menjulur tidak terjadi. Mereka tidak menikmati rasanya lebih banyak, meskipun mereka lebih menginginkan makanan tersebut.

Kemudian mereka menggunakan endocannabinoid. Bahan kimia ini terkait dengan bagian “menyukai” kesenangan pada mamalia.

Ledakan. Lidah lebih sering keluar. Sinyal kenikmatan meningkat.

Jadi ya, mereka merasakannya. Atau lebih tepatnya, mereka mengolah dunia dengan lapisan subjektivitas. Ini bukan robot.

Apakah itu emosi yang mirip manusia? Mungkin tidak.

Ralph Adolphs dari Caltech menunjukkan hal yang jelas: ekspresi wajah tidak menciptakan emosi. Aktor memalsukannya. Penderita kelumpuhan wajah masih merasakan kesedihan dan kegembiraan.

“Lebah punya emosi seperti lebah,” katanya. Bukan milik kita. Kabel berbeda, keluaran berbeda. Tapi buktinya kuat. Mereka mewakili nilai secara fleksibel.

Jonathan Birch dari London School of Economics melihat gambaran yang lebih besar di sini. Kami telah meremehkan bug selama berabad-abad. Penelitian ini jarang terjadi. Ini mengurai keinginan dari suka. Hal ini menunjukkan bahwa alat berteknologi tinggi, seperti kamera gerak super lambat, dapat mengungkap apa yang luput dari perhatian kita.

Dunia ini bukan sekedar kumpulan masukan buta dan keluaran terprogram.

Bahkan untuk serangga bertopeng wajah.