Kesenjangan Usia dalam Penelitian Kanker: Mengapa Mempelajari Model Muda Mungkin Menghambat Pengobatan yang Efektif

17

Ketidakcocokan mendasar dalam penelitian kanker berpotensi menghambat kemajuan medis: meskipun sebagian besar pasien kanker adalah orang lanjut usia, sebagian besar penelitian laboratorium dilakukan pada subjek berusia muda. Kesenjangan ini menciptakan kesenjangan yang signifikan antara hasil laboratorium yang sukses dan hasil klinis di dunia nyata.

“Bias Pemuda” dalam Ilmu Laboratorium

Penelitian kanker saat ini sangat bergantung pada tikus muda, yang secara biologis sebanding dengan manusia di usia awal 20-an. Menurut data terbaru, kurang dari 10% eksperimen kanker melibatkan hewan berusia lanjut.

Ketergantungan pada model “muda dan bugar” didorong oleh kendala praktis:
Biaya: Perawatan tikus yang lebih muda jauh lebih murah.
Waktu: Untuk mempelajari penuaan, tikus harus dipelihara selama 18 hingga 24 bulan, jangka waktu yang lama untuk banyak siklus penelitian.
Kesederhanaan: Tikus muda memiliki sistem kekebalan tubuh yang sehat dan utuh sehingga lebih mudah dipelajari dalam lingkungan terkendali.

Namun, bias ini menciptakan “kesenjangan penerjemahan”. Terapi yang tampak sangat efektif pada model muda dan sehat sering kali gagal dalam uji klinis pada manusia karena tidak memperhitungkan realitas biologis kompleks pada pasien lanjut usia, yang sering menghadapi respons imun berbeda dan risiko toksisitas yang lebih tinggi.

Temuan Baru: Hubungan Non-Linear Antara Usia dan Kanker

Penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Association for Cancer Research oleh Fox Chase Cancer Center menunjukkan bahwa perkembangan kanker tidak mengikuti garis lurus seiring bertambahnya usia.

Dalam sebuah penelitian yang berfokus pada melanoma, para peneliti menemukan pola mengejutkan mengenai bagaimana kanker menyebar:
1. Tikus muda: Menunjukkan tingkat penyebaran kanker terendah.
2. Tikus paruh baya: Mengalami tingkat tertinggi metastasis ke organ vital seperti paru-paru dan hati.
3. Tikus yang sangat tua: Yang mengejutkan, menunjukkan penurunan penyebaran kanker dibandingkan dengan kelompok paruh baya.

Peran Sel $\gamma\delta$T

Kunci dari fenomena ini tampaknya terletak pada kelompok sel kekebalan tertentu yang dikenal sebagai sel T gamma delta ($\gamma\delta$). Sel-sel ini bertindak sebagai mekanisme pertahanan awal melawan kanker.

Studi ini mengungkapkan korelasi yang jelas antara sel-sel ini dan usia:
Pertahanan Tinggi: Tikus muda dan sangat tua mempertahankan tingkat sel $\gamma\delta$ T yang lebih tinggi, yang membantu menjaga tumor tetap tidak aktif atau terlokalisasi.
Kerentanan Usia Pertengahan: Tikus paruh baya memiliki sel pelindung yang jauh lebih sedikit. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa pada kelompok usia ini, sel melanoma secara aktif melepaskan molekul yang dirancang untuk menekan atau “menghabiskan” sistem kekebalan tubuh, sehingga memungkinkan kanker menyebar secara agresif.

Menjembatani Kesenjangan: Alat Baru untuk Penelitian Penuaan

Untuk mengatasi kurangnya data mengenai subjek yang lebih tua, para peneliti di Fox Chase, termasuk Mitchell Fane, PhD, dan Yash Chabra, PhD, telah mendirikan fasilitas tikus tua khusus. Dengan menciptakan koloni tikus yang lebih tua, mereka bertujuan untuk menurunkan hambatan biaya dan waktu yang sebelumnya membuat para ilmuwan enggan mempelajari penuaan.

Fasilitas ini memungkinkan para peneliti untuk beralih dari model “satu ukuran untuk semua” dan mulai mengajukan pertanyaan kritis: Mengapa risiko kanker tampaknya menurun pada pasien berusia di atas 85 tahun? Dan bagaimana kita dapat melindungi sistem kekebalan pasien paruh baya untuk mencegah metastasis agresif?

“Memahami bagaimana terapi mempengaruhi pasien lanjut usia akan memberi kita pilihan pengobatan yang lebih banyak dan lebih baik,” kata Mitchell Fane, PhD.

Kesimpulan

Dengan mengalihkan fokus penelitian dari model muda ke subjek lanjut usia, para ilmuwan dapat lebih memahami mengapa kanker berperilaku berbeda sepanjang umur. Mengatasi “kesenjangan usia” dalam penelitian sangat penting untuk mengembangkan pengobatan yang dipersonalisasi dan efektif yang sesuai dengan demografi yang paling terkena dampak penyakit ini.