Bukti DNA Mengungkap Keruntuhan Populasi yang Bencana di Prancis Prasejarah

14

Sebuah studi genetika inovatif terhadap situs pemakaman besar-besaran pada Zaman Batu di dekat Paris telah mengungkap bukti keruntuhan demografis yang dramatis di Eropa kuno. Temuan ini menunjukkan bahwa penduduk lokal tidak hanya bermigrasi tetapi juga musnah, dan berabad-abad kemudian digantikan oleh pendatang baru dari selatan. Penemuan ini memberikan konteks penting bagi “penurunan Neolitik”, suatu periode misterius sekitar 3000 SM ketika populasi manusia di seluruh Eropa utara anjlok.

Perubahan Genetik yang Tajam

Penelitian yang dipimpin oleh Universitas Kopenhagen dan dipublikasikan di Nature Ecology & Evolution ini menganalisis DNA yang diekstraksi dari tulang 132 individu yang dikuburkan di makam megalitik besar dekat Bury, sekitar 50 kilometer (31 mil) utara Paris. Situs ini dimanfaatkan dalam dua fase berbeda, dipisahkan oleh kesenjangan penggunaan yang signifikan.

Data genetik menunjukkan adanya diskontinuitas yang mencolok antara kedua periode ini. Individu yang terkubur sebelum penurunan populasi memiliki ikatan genetik yang erat dengan populasi petani awal di Perancis utara dan Jerman. Sebaliknya, mereka yang dikubur setelah masa jeda menunjukkan kedekatan genetik yang kuat dengan kelompok dari Perancis selatan dan Semenanjung Iberia.

“Kami melihat perbedaan genetik yang jelas antara kedua periode tersebut,” kata Frederik Valeur Seersholm, asisten profesor di Globe Institute dan salah satu penulis utama studi tersebut. “Kelompok sebelumnya menyerupai populasi pertanian Zaman Batu di Perancis utara dan Jerman, sedangkan kelompok selanjutnya menunjukkan hubungan genetik yang kuat dengan Perancis selatan dan Semenanjung Iberia.”

Kurangnya hubungan kekerabatan antara kedua kelompok ini menunjukkan adanya penggantian penduduk lokal secara total, bukan migrasi atau asimilasi bertahap.

Krisis Penyakit dan Demografi

Untuk memahami penyebab keruntuhan ini, para peneliti menggunakan metode yang mengurutkan semua materi genetik yang tersimpan di tulang, sehingga memungkinkan mereka mendeteksi patogen purba. Analisis tersebut mengidentifikasi jejak Yersinia pestis (bakteri yang menyebabkan wabah) dan Borrelia recurrentis (yang menyebabkan demam kambuhan yang ditularkan melalui kutu).

Namun, kehadiran penyakit-penyakit tersebut tidak sepenuhnya menjelaskan skala bencana yang terjadi. Martin Sikora, profesor di Universitas Kopenhagen dan penulis senior, mencatat bahwa meskipun ada wabah, kemungkinan besar penyakit tersebut bukanlah satu-satunya penyebab.

“Penurunan ini kemungkinan disebabkan oleh kombinasi penyakit, tekanan lingkungan, dan peristiwa-peristiwa mengganggu lainnya,” jelas Sikora.

Analisis kerangka lebih lanjut mendukung teori krisis yang parah. Fase penguburan yang lebih awal menunjukkan tingkat kematian yang luar biasa tinggi, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. Laure Salanova, direktur penelitian di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional (CNRS) Perancis, menggambarkan pola demografi ini sebagai indikator kuat keruntuhan masyarakat.

Pergeseran Struktur Sosial

Pergantian penduduk dibarengi dengan perubahan mendasar dalam organisasi sosial. Pada tahap awal, makam tersebut berisi pemakaman beberapa generasi dari keluarga besar, yang menunjukkan sebuah komunitas yang dibangun berdasarkan unit keluarga egaliter yang erat.

Pada fase selanjutnya, setelah kedatangan para migran dari selatan, praktik penguburan berubah secara signifikan. Pemakaman baru lebih selektif dan didominasi oleh satu garis keturunan laki-laki. Pergeseran ini menunjukkan adanya pergerakan menuju struktur sosial yang lebih hierarkis atau patrilineal, yang menandai penyimpangan yang jelas dari norma-norma masyarakat sebelumnya.

Berakhirnya Zaman Megalitikum

Temuan ini menawarkan penjelasan yang lebih luas atas fenomena yang diamati di seluruh Eropa: penghentian pembangunan monumen batu berskala besar secara tiba-tiba. Berakhirnya pembangunan makam megalitik bertepatan dengan lenyapnya populasi yang membangunnya.

“Kami sekarang melihat bahwa akhir dari konstruksi monumental ini bertepatan dengan hilangnya populasi yang membangunnya,” kata Seersholm.

Studi ini memperluas cakupan kemunduran Neolitikum, menunjukkan bahwa kemunduran tersebut tidak hanya terjadi di Skandinavia dan Jerman bagian utara, namun juga berdampak pada sebagian besar Eropa Barat. Dengan menghubungkan keruntuhan demografi, penyakit, dan restrukturisasi sosial, penelitian ini memberikan gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana masyarakat prasejarah merespons—dan terkadang gagal untuk bertahan—tekanan lingkungan dan biologis yang membawa bencana.


Catatan pada Materi Sumber: Teks asli berisi referensi studi tentang resistensi obat melanoma oleh Xu dkk. di Alam (2026). Referensi ini tidak ada hubungannya dengan temuan arkeologis yang dijelaskan dalam artikel dan tampaknya merupakan kesalahan kutipan pada materi sumber. Artikel ini dikecualikan dari penulisan ulang ini untuk menjaga keakuratan dan relevansi faktual.