Beyond the Orbit: Perlombaan Beresiko Tinggi untuk Merebut Kembali Bulan

3

Keberhasilan penyelesaian misi Artemis II NASA telah memberikan momen inspirasi yang mendalam. Dengan mengirimkan empat astronot dalam putaran mengelilingi sisi jauh Bulan dan mengembalikan mereka dengan selamat ke Bumi, pesawat ruang angkasa Orion telah membuktikan bahwa perjalanan manusia ke luar angkasa sekali lagi menjadi kenyataan. Meskipun misi tersebut merupakan kemenangan teknis, misi ini juga menyoroti kebenaran yang menyedihkan: mengelilingi Bulan adalah prestasi yang relatif sederhana. Tantangan sebenarnya—mendarat manusia di permukaan bulan dan tinggal di sana —masih merupakan tantangan teknis dan logistik yang sulit untuk didaki.

Pergeseran dari Politik Perang Dingin ke Ekonomi Bulan

Untuk memahami mengapa program Artemis saat ini berbeda dengan era Apollo, kita harus melihat motivasi di baliknya. Misi Apollo pada tahun 1960an didorong oleh urgensi geopolitik dari Perang Dingin; begitu Amerika Serikat menunjukkan superioritasnya atas Uni Soviet, kepentingan publik dan politik menguap, dan program tersebut dibatalkan.

Sebaliknya, visi NASA saat ini dibangun berdasarkan keberlanjutan dan pembangunan ekonomi. Tujuannya bukan sekedar misi “bendera dan jejak kaki”, tetapi pendirian pangkalan permanen di bulan.
Ambisi: NASA menargetkan satu pendaratan di bulan berawak per tahun mulai tahun 2028.
Visi: Direktur Jenderal ESA Josef Aschbacher berpendapat bahwa “ekonomi Bulan” tidak dapat dihindari, meskipun hal ini memerlukan waktu yang lama untuk membangun infrastruktur yang diperlukan.

“Masalah Pendarat” dan Tantangan Teknik

Hambatan paling signifikan dalam garis waktu Artemis adalah pengembangan pendarat di bulan. Berbeda dengan modul Apollo yang ringkas, misi modern memerlukan pendarat besar yang mampu mengangkut infrastruktur berat, termasuk kendaraan bertekanan dan komponen pangkalan.

NASA telah beralih ke sektor swasta untuk menyelesaikan masalah ini, dengan mengontrak dua raksasa: SpaceX dan Blue Origin. Namun keduanya menghadapi kemunduran yang signifikan:
Kapal Luar Angkasa SpaceX: Saat ini diperkirakan terlambat setidaknya dua tahun dari jadwal.
Blue Moon Blue Origin: Menghadapi penundaan setidaknya delapan bulan, dengan masalah desain yang belum terselesaikan.

Selain itu, logistik untuk membawa muatan berat ini ke Bulan sangatlah kompleks. NASA berencana menggunakan strategi pengisian bahan bakar orbital, yaitu depot di orbit bumi diisi oleh lebih dari sepuluh penerbangan tanker terpisah. Hal ini memerlukan pemindahan oksigen cair dan metana yang sangat dingin ke ruang hampa udara—sebuah proses yang sangat sulit sehingga para ahli memperingatkan bahwa jika hal ini tidak dapat dikuasai dengan mudah di landasan peluncuran, maka melakukannya di orbit akan menjadi “sangat sulit”.

Perlombaan Luar Angkasa Baru: Faktor Tiongkok

Tekanan untuk memenuhi target pendaratan pada tahun 2028 bukan hanya bersifat teknis; ini sangat politis. Batas waktu ini sejalan dengan kebijakan luar angkasa AS yang diperbarui, namun analis independen masih skeptis terhadap kelayakannya.

Yang semakin mendesak adalah pesatnya pendakian Tiongkok, yang bertujuan untuk mendaratkan astronot di Bulan sekitar tahun 2030. Menariknya, pendekatan Tiongkok mungkin lebih pragmatis: mereka menggunakan sistem dua roket yang lebih sederhana yang menghindari pengisian bahan bakar di orbit yang berisiko tinggi dan rumit seperti yang diandalkan oleh program Artemis Amerika. Jika logistik kompleks NASA gagal terwujud, Tiongkok berpotensi mengklaim permukaan bulan terlebih dahulu.

Jalan Panjang Menuju Mars

Meskipun Bulan adalah batu loncatan terdekat, Mars tetap menjadi hadiah utama. Meskipun tokoh-tokoh seperti Elon Musk memperkirakan Mars dapat dicapai pada akhir dekade ini, sebagian besar ahli berpendapat bahwa tahun 2040-an** adalah jangka waktu yang lebih realistis.

Lompatan dari Bulan ke Mars memiliki skala astronomis. Perjalanan ke Planet Merah melibatkan:
Tujuh hingga sembilan bulan perjalanan melalui radiasi yang intens.
Tidak ada kemungkinan penyelamatan setelah perjalanan dimulai.
Kompleksitas pendaratan yang ekstrem karena atmosfer Mars yang tipis.

Kesimpulan

Misi Artemis II telah berhasil menghidupkan kembali semangat eksplorasi manusia, namun jalur menuju pangkalan di bulan penuh dengan risiko teknis dan persaingan internasional yang ketat. Apakah umat manusia dapat bertahan secara permanen di Bulan atau tertinggal dalam perlombaan antariksa baru, bergantung pada penguasaan fisika yang sangat kompleks dalam pengisian bahan bakar di orbit dan pendaratan benda berat.