Piton Raksasa Purba Pernah Menghuni Taiwan

11

Bukti fosil menegaskan bahwa ular piton sepanjang empat meter tumbuh subur di pulau Taiwan selama zaman Pleistosen Tengah, sekitar 800.000 hingga 400.000 tahun yang lalu. Penemuan ini menandai catatan fosil ular piton pertama yang terkonfirmasi di pulau utama Taiwan, dan menantang pemahaman terkini mengenai fauna prasejarah di wilayah tersebut.

Penemuan Fosil

Ahli paleontologi dari Universitas Nasional Taiwan menganalisis tulang belakang yang terpelihara dengan baik yang digali di dekat Kota Tainan. Dimensi spesimen, yang direkonstruksi melalui pemodelan 3D, menunjukkan bahwa ular tersebut melebihi ukuran reptil Taiwan yang hidup saat ini. Fosil tersebut mewakili ular terbesar yang pernah ditemukan di Taiwan, mengisyaratkan ekosistem yang sangat berbeda dari yang ada saat ini.

Distribusi Python Hari Ini

Ular sanca modern ditemukan di Asia tropis dan subtropis, Afrika, dan Australia. Mulai dari Bangladesh dan India hingga Indonesia, Filipina, dan sebagian Afrika di selatan Sahara. Khususnya, saat ini tidak ada ular piton asli yang hidup di Taiwan. Hal ini membuat keberadaan ular piton sebesar itu pada zaman prasejarah semakin mencolok.

Ekosistem yang Hilang

Penemuan ini tidak terisolasi. Formasi Chiting, tempat ditemukannya tulang belakang, juga menghasilkan fosil kucing bertaring tajam, buaya raksasa, mamut, dan badak yang telah punah. Kumpulan ini menunjukkan ekosistem yang dulunya kompleks dan didominasi oleh predator.

Para peneliti mencatat bahwa kepunahan megafauna ini – termasuk ular piton raksasa – menciptakan perubahan ekologi yang signifikan. Tidak adanya predator puncak dalam ekosistem modern Taiwan menunjukkan adanya kekosongan, yang berpotensi mempengaruhi evolusi keanekaragaman hayati kontemporer.

Implikasinya terhadap Keanekaragaman Hayati

Temuan fosil ini menimbulkan pertanyaan tentang asal usul kehidupan hewan di Taiwan saat ini. Perubahan drastis pada fauna di pulau ini sejak zaman Pleistosen menunjukkan adanya perubahan ekologi yang besar. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami sepenuhnya bagaimana ekosistem kuno ini mempengaruhi keanekaragaman hayati modern di Asia Timur.

“Predator puncak yang punah…menunjukkan pergantian fauna yang drastis,” para ilmuwan menyimpulkan, menyiratkan bahwa ekosistem saat ini mungkin masih dalam tahap pemulihan dari kehilangan yang signifikan pada zaman prasejarah.

Penelitian tersebut dipublikasikan di Historical Biology pada 16 Januari 2026.