Umur Planet: Berapa Lama Dunia Bertahan?

10

Planet tidak abadi. Seperti bintang, mereka menjalani siklus hidup yang berbeda: pembentukan, evolusi, dan akhirnya mati. Namun, durasi tahap-tahap ini sangat bervariasi tergantung pada jenis bintang yang diorbit oleh sebuah planet. Meskipun nasib bumi bergantung pada evolusi matahari, banyak planet di sekitar bintang yang lebih kecil dan lebih dingin dapat bertahan selama triliunan tahun. Memahami rentang hidup planet bukan hanya tentang astronomi teoretis; hal ini memperjelas betapa langkanya kondisi mirip Bumi dan menimbulkan pertanyaan tentang kelayakan huni dunia lain dalam jangka panjang.

Tahapan Keberadaan Planet

Planet bermula dari butiran debu mikroskopis di dalam piringan yang mengelilingi bintang-bintang muda, dan perlahan-lahan tumbuh melalui tumbukan. Raksasa gas seperti Yupiter mula-mula membentuk inti berbatu/es sebelum menghasilkan gas, sedangkan planet berbatu seperti Bumi mengalami pengeboman tahap akhir setelah piringan gasnya menghilang. Urutan pasti dari proses ini masih diperdebatkan di kalangan ilmuwan.

Namun mendefinisikan “akhir” sebuah planet adalah hal yang rumit. Apakah ini kehancuran, atau sekadar perubahan kondisi? Seperti yang dijelaskan oleh ilmuwan planet Stanford, Matthew Reinhold, sebuah planet bisa “berakhir” jika tidak lagi mendukung lingkungan yang kita tinggali.

Pengaruh Matahari Terhadap Nasib Bumi

Umur bumi berhubungan langsung dengan evolusi matahari. Dalam waktu sekitar 5 miliar tahun, matahari kita akan kehabisan bahan bakar hidrogennya, berkembang menjadi raksasa merah, dan akhirnya runtuh. Menurut ahli astrofisika Sean Raymond, hal ini berarti Bumi tidak akan dapat dihuni lagi setelah matahari menyinari dan menguapkan lautan. Ia kemudian mungkin tertelan oleh matahari yang mengembang atau terlempar ke ruang antarbintang.

Perhitungan menunjukkan bahwa bumi akan bertahan sekitar 9,5 miliar tahun secara keseluruhan. Namun, waktu tersebut relatif singkat dibandingkan dengan planet yang mengorbit bintang katai merah.

Kurcaci Merah: Sang Juara Panjang Umur

Kebanyakan bintang bukanlah katai kuning seperti matahari kita; mereka adalah katai merah – lebih kecil, lebih dingin, dan memiliki rentang hidup yang jauh lebih panjang. Bintang-bintang ini membakar bahan bakar dengan sangat lambat sehingga dapat bertahan selama triliunan tahun.

Untuk planet di sekitar katai merah, kepunahannya mungkin bukan disebabkan oleh kematian bintang, melainkan karena proses internal. Model Reinhold menunjukkan bahwa planet mirip Bumi yang mengorbit katai merah kemungkinan besar tidak dapat dihuni karena terhentinya konveksi mantel (30-90 miliar tahun) atau mencairnya mantel (16-23 miliar tahun) jauh sebelum bintangnya mati. Bahkan dalam jangka waktu yang paling singkat sekalipun, dunia ini dapat tetap layak huni selama miliaran tahun.

Nasib Raksasa Gas dan Bintang Besar

Bintang yang lebih besar dan lebih panas mempunyai rentang hidup yang jauh lebih pendek. Sebuah planet yang mengorbit bintang putih tipe A, misalnya, hanya dapat bertahan selama 100 juta hingga 1 miliar tahun. Raksasa gas juga dapat kehilangan atmosfernya selama jutaan hingga miliaran tahun jika terkena radiasi bintang yang intens.

Dalam rentang waktu yang sangat lama, bahkan planet yang stabil pun menghadapi kemungkinan tabrakan atau lontaran dari sistem bintangnya. Pada akhirnya, nasib dunia-dunia ini mungkin bergantung pada akhir alam semesta, karena planet-planet yang diusir akan mengembara di kehampaan selamanya.

Kesimpulannya, umur planet sangat beragam, mulai dari miliaran hingga triliunan tahun. Bintang yang diorbit oleh sebuah planet menentukan nasibnya lebih dari sekedar proses internal apa pun. Meskipun waktu yang dimiliki Bumi dibatasi oleh evolusi Matahari, banyak sekali dunia di sekitar katai merah yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang tidak terbayangkan. Hal ini menunjukkan bahwa kelayakhunian dalam jangka panjang jauh lebih umum daripada yang diperkirakan sebelumnya.