Hatshepsut: Dari “Ibu Tiri yang Jahat” hingga Inovator Mesir yang Terlupakan

7

Selama berabad-abad, Hatshepsut, salah satu dari sedikit wanita yang memerintah Mesir kuno sebagai firaun, dikenang sebagai perampas kekuasaan yang kejam. Namun, ilmu pengetahuan modern sedang menulis ulang kisahnya: dia bukanlah seorang penjahat, tetapi seorang pemimpin cerdas yang pemerintahannya membawa kemakmuran dan perkembangan seni. Catatan sejarah, yang telah lama dibentuk oleh raja-raja di kemudian hari yang ingin menghapus ingatannya, akhirnya diperiksa ulang.

Bangkitnya Firaun Wanita

Hatshepsut berkuasa pada abad ke-15 SM. melalui permainan kekuatan yang berani. Sebagai putri Thutmose I, ia menikah dengan saudara tirinya, Thutmose II. Ketika dia meninggal secara tak terduga, dia naik takhta sebagai wali untuk anak tirinya, Thutmose III. Dalam beberapa tahun, dia dengan berani mendeklarasikan dirinya sebagai firaun dan memerintah Mesir selama hampir dua dekade. Untuk melegitimasi pemerintahannya, Hatshepsut menampilkan dirinya sebagai dewa yang hidup—sebuah praktik umum yang dilakukan para penguasa Mesir—menyebut dirinya sebagai “Penguasa Dua Negeri.”

Ini bukanlah perebutan kekuasaan yang sederhana. Hatshepsut mengawasi periode pertumbuhan ekonomi, menugaskan proyek pembangunan yang ambisius (termasuk kompleks kuil megah di Deir el-Bahri) dan merevitalisasi jalur perdagangan. Pemerintahannya tidak ditandai dengan penaklukan atau peperangan, namun dengan perluasan budaya dan kemakmuran.

Warisan yang Rusak

Setelah kematian Hatshepsut, upaya sistematis dilakukan untuk menghapusnya dari sejarah. Patung-patungnya dihancurkan, relief-reliefnya dirusak, dan namanya dihapus dari catatan resmi. Selama beberapa dekade, para ahli berasumsi bahwa penghancuran ini diperintahkan oleh Thutmose III, didorong oleh kebencian atau keinginan untuk memulihkan pemerintahan tradisional laki-laki.

Skala penodaan ini ditemukan pada tahun 1920-an, ketika para arkeolog menemukan ribuan gambar firaun perempuan yang hancur. Awalnya, kebrutalan tindakan tersebut memperkuat narasi balas dendam Thutmose III.

Perspektif Baru

Namun penelitian terbaru menunjukkan cerita yang lebih kompleks. Ahli Mesir Kuno Jun Yi Wong, dalam penelitian yang diterbitkan di Antiquity, memeriksa kembali catatan penggalian berusia puluhan tahun, termasuk catatan dan foto yang tidak dipublikasikan. Ia menemukan bahwa kerusakannya tidak secepat yang diperkirakan sebelumnya, namun terjadi dalam jangka waktu sekitar 25 tahun setelah kematian Hatshepsut.

Wong juga berargumentasi bahwa kehancuran yang terjadi tidak seutuh yang diperkirakan sebelumnya. Beberapa monumen Hatshepsut sengaja dibiarkan utuh, sementara yang lain dirusak dengan cara yang menunjukkan motif politik dan bukan motif dendam semata. Thutmose III mungkin berusaha mengurangi pengaruhnya, bukan menghapusnya sepenuhnya.

Mengapa Ini Penting

Kisah Hatshepsut mengungkapkan betapa mudahnya sejarah dimanipulasi. Selama berabad-abad, tindakannya dianggap jahat karena narasinya dikendalikan oleh orang-orang yang mengikutinya. Evaluasi ulang yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan bahwa perebutan kekuasaan seringkali berujung pada revisionisme sejarah. Dengan meninjau kembali sumber-sumber primer, para ahli mengungkap gambaran yang lebih berbeda mengenai pemerintahan Hatshepsut: dia bukanlah seorang ibu tiri yang jahat, namun seorang penguasa yang cakap yang warisannya telah ternoda secara tidak adil.

Upaya berkelanjutan untuk memahami kisah Hatshepsut menggarisbawahi pentingnya mempertanyakan narasi yang sudah ada dan mengkaji peristiwa sejarah melalui berbagai lensa. Kasusnya menjadi pengingat bahwa bahkan di zaman kuno, kekuasaan, politik, dan ingatan saling terkait erat.