Menjelang akhir bulan Desember, bulan malam ini akan berada dalam fase Waxing Gibbous, yang berarti lebih dari setengahnya diterangi. Pada tanggal 30 Desember 2025, sekitar 79% permukaan bulan akan terlihat dengan mata telanjang. Fase ini terjadi saat bulan bergerak antara tahap Kuartal Pertama dan Bulan Purnama dalam siklus bulan sekitar 29,5 hari.
Yang Dapat Anda Lihat Malam Ini
Bahkan tanpa peralatan, pengamat dapat membedakan fitur-fitur utama bulan seperti Mares Fecunditatis, Serenitatis, dan Imbrium —dataran basaltik gelap yang terbentuk oleh letusan gunung berapi purba.
Dengan teropong, detail tambahan dapat terlihat, termasuk Kawah Endymion dan Pegunungan Alpen dan Apennine yang terjal. Bagi mereka yang memiliki akses ke teleskop, landmark seperti lokasi pendaratan Apollo 11, Dataran Tinggi Descartes, dan Rima Hyginus yang berkelok-kelok akan terlihat. Fitur-fitur ini menyoroti sejarah geologi Bulan yang beragam, yang dibentuk oleh dampak dan aktivitas gunung berapi selama miliaran tahun.
Penjelasan Bulan Purnama dan Siklus Bulan Mendatang
Bulan purnama berikutnya dijadwalkan pada 3 Januari 2026, sedangkan bulan purnama sebelumnya terjadi pada 4 Desember 2025. Siklus bulan – waktu yang dibutuhkan bulan untuk mengorbit Bumi dan menyelesaikan semua fasenya – kira-kira 29,5 hari. Selama siklus ini, jumlah sinar matahari yang mengenai permukaan bulan berubah karena posisi bumi relatif terhadap matahari dan bulan.
Delapan Fase Bulan Utama
Bulan melewati delapan fase berbeda:
- Bulan Baru: Sisi yang menghadap Bumi gelap, sehingga bulan tidak terlihat.
- Bulan Sabit Lilin: Sepotong cahaya tipis muncul di sisi kanan (di Belahan Bumi Utara).
- Kuartal Pertama: Separuh bulan menyala di sisi kanan.
- Waxing Gibbous: Lebih dari separuh bulan diterangi, namun belum purnama.
- Bulan Purnama: Seluruh permukaan bulan diterangi cahaya penuh.
- Wing Gibbous: Bulan mulai kehilangan cahaya di sisi kanan.
- Kuartal Ketiga (Kuartal Terakhir): Separuh bulan menyala di sisi kiri.
- Bulan Sabit Pudar: Sepotong cahaya tipis tertinggal di sisi kiri sebelum menghilang lagi.
Konsistensi siklus ini, meskipun Bulan selalu menunjukkan sisi yang sama terhadap Bumi, merupakan aspek mendasar dari perilaku tetangga angkasa kita. Pola yang dapat diprediksi ini telah dilacak oleh manusia selama ribuan tahun, memengaruhi kalender, navigasi, dan praktik budaya.
Fase bulan bukan hanya sekedar estetika; mereka mencerminkan hubungan dinamis antara Bumi, matahari, dan satelit alaminya.
































