Bekas Luka Abadi dari Covid-19: Bagaimana Pandemi Membentuk Kembali Masyarakat Inggris

23
Bekas Luka Abadi dari Covid-19: Bagaimana Pandemi Membentuk Kembali Masyarakat Inggris

Tahap akhir penyelidikan Covid-19 di Inggris telah selesai, meninggalkan catatan buruk mengenai dampak jangka panjang dari pandemi ini. Penyelidikan tersebut, yang berlangsung selama hampir tiga tahun, bergerak melampaui kegagalan kebijakan tertentu untuk mengkaji bagaimana krisis ini secara mendasar mengubah masyarakat Inggris. Meskipun keadaan darurat kesehatan telah berlalu, dampak psikologis, sosial, dan sistemik masih terus dirasakan oleh masyarakat. Temuan-temuan tersebut mengungkap “kenormalan baru” yang ditandai dengan meningkatnya permasalahan kesehatan mental, tindakan darurat yang dinormalisasi, dan terkikisnya kepercayaan terhadap institusi.

Krisis Kesehatan Mental: Pandemi di Dalam Pandemi

Penguncian (lockdown) akibat Covid-19 memicu lonjakan masalah kesehatan mental, sehingga membebani layanan yang sudah tegang. Badan-badan amal seperti Mind melihat adanya permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya karena banyak individu, yang sebagian besar tidak memiliki riwayat penyakit sebelumnya, mencari bantuan di tengah kekhawatiran dan isolasi yang meluas. Serangan terus menerus dari berita-berita yang mengkhawatirkan dan pengumuman menteri menambah rasa takut, menyebabkan lonjakan panggilan saluran bantuan dan memicu kondisi seperti ide bunuh diri, menyakiti diri sendiri, dan gangguan makan. Krisis ini bukan hanya bersifat historis; Penyelidikan tersebut menemukan bahwa kesedihan yang kompleks – yang berasal dari praktik berkabung dan pemakaman yang terbatas – masih tersebar luas, namun kurang dipahami.

“Ketidakmampuan masyarakat untuk berduka atau mengadakan pemakaman yang layak telah menyebabkan kesedihan yang kompleks dan gangguan stres pasca-trauma yang masih belum kita pahami sebagai sebuah bangsa.” — Dr. Sarah Hughes, CEO Pikiran

Erosi Rasa Hormat Terhadap Pekerja Kunci

Pandemi ini mengungkap adanya rasa tidak hormat dan agresi yang berbahaya terhadap pekerja penting. Staf transportasi, pegawai toko, dan profesional kesehatan menghadapi pelecehan yang dinormalisasi, termasuk ancaman verbal dan intimidasi fisik, saat mereka menerapkan tindakan kesehatan masyarakat. Kasus Belly Mujinga yang meninggal setelah diludahi menjadi simbol permusuhan tersebut. Masalah ini tidak hilang seiring dengan adanya virus; Penyelidikan tersebut menemukan bahwa pelecehan terus berlanjut, sehingga menyoroti masalah dehumanisasi yang lebih mendalam di masyarakat.

Tunawisma dan “New Normal” Perumahan Sementara

Inisiatif “Semua Orang”, meskipun pada awalnya berhasil dalam menampung orang-orang yang sulit tidur, secara tidak sengaja menormalkan penggunaan hotel dan B&B sebagai akomodasi darurat. Para ahli memperingatkan bahwa pendekatan ini, yang awalnya dimaksudkan sebagai perbaikan sementara, kini telah mengakar. Hasilnya adalah sebuah sistem di mana individu-individu yang rentan ditempatkan dalam kondisi yang tidak sesuai, dengan staf yang tidak terlatih tidak memiliki bekal yang memadai untuk menangani krisis kesehatan mental yang parah atau keadaan darurat penyalahgunaan narkoba.

Komunitas Penyandang Disabilitas Tertinggal

Pandemi ini memberikan dampak yang tidak proporsional terhadap penyandang disabilitas, yang berada dalam “kekosongan” ketika layanan sosial tidak berfungsi dan ketakutan melanda negara tersebut. Perlindungan yang berkepanjangan dan layanan kesehatan yang terganggu menciptakan iklim manajemen risiko yang konstan, sementara retorika yang meremehkan mengenai “kondisi yang mendasari” semakin merendahkan nilai kehidupan mereka. Hal ini menyebabkan kecemasan yang luar biasa, dengan kasus-kasus seperti seorang wanita muda yang melakukan tindakan menyakiti diri sendiri dengan pemutih karena rasa takut dan isolasi yang luar biasa. Penyelidikan tersebut menemukan bahwa kepercayaan terhadap layanan kesehatan dan ruang publik belum pulih, sehingga banyak penyandang disabilitas enggan untuk terlibat kembali dengan masyarakat.

Penyelidikan terhadap Covid-19 berfungsi sebagai catatan permanen atas luka-luka pandemi yang berkepanjangan. Temuan-temuan tersebut mengungkapkan bahwa krisis ini tidak hanya menguji sistem di Inggris; hal ini secara fundamental mengubah tatanan sosial, meninggalkan warisan tantangan kesehatan mental, mengikis rasa hormat terhadap pekerja penting, dan menormalisasi tindakan darurat yang mungkin akan bertahan lama setelah virus ini mereda.