Pengobatan Kuno: Neanderthal Kemungkinan Menggunakan Birch Tar sebagai Pengobatan Antibakteri

23

Penelitian baru menunjukkan bahwa Neanderthal lebih dari sekadar pembuat peralatan yang terampil; mereka mungkin adalah praktisi kedokteran awal. Sebuah penelitian baru-baru ini mengungkapkan bahwa tar birch yang digunakan oleh kerabat zaman dahulu untuk membuat peralatan juga memiliki sifat antibakteri yang signifikan, sehingga berpotensi digunakan sebagai pengobatan luka primitif hampir 200.000 tahun sebelum antibiotik modern.

Dari Pembuatan Peralatan hingga Layanan Kesehatan

Selama bertahun-tahun, para arkeolog telah mendokumentasikan penggunaan tar birch oleh Neanderthal. Zat kental ini, yang tercipta melalui pemanasan kulit kayu birch, sangat penting untuk hafting —proses menempelkan ujung tombak batu ke gagang kayu. Meskipun berfungsi sebagai penutup dan perekat, bukti baru menunjukkan kegunaannya meluas ke bidang biologis.

Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Universitas Cologne dan Universitas Oxford ini bertujuan untuk menentukan apakah “lem kuno” ini memiliki nilai pengobatan. Penyelidikan ini mengikuti semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa Neanderthal memiliki pemahaman yang canggih tentang pengobatan nabati.

Menciptakan Kembali Kimia Prasejarah

Untuk menguji hipotesis ini, para ilmuwan menciptakan kembali tar menggunakan metode yang konsisten dengan era Pleistosen Akhir (sekitar 129.000 hingga 11.700 tahun yang lalu). Tim tersebut memanfaatkan kulit kayu dari spesies pohon birch yang didokumentasikan ada pada periode tersebut dan menggunakan tiga teknik ekstraksi berbeda:

  1. Distilasi Kering: Membakar kulit kayu dalam lubang bawah tanah yang tertutup untuk mengekstrak tar jika tidak ada oksigen.
  2. Kondensasi Permukaan: Membakar kulit kayu di dekat permukaan batu yang keras dan mengikis residu yang dihasilkan.
  3. Metode Tradisional Adat: Memanaskan kulit kayu dalam kaleng, sebuah teknik yang terinspirasi oleh bangsa Mi’kmaq, yang telah lama menggunakan tar birch dalam apotek tradisional mereka.

Efek Antibakteri Terbukti

Sampel yang dihasilkan menjalani pengujian biologis di Universitas Cape Breton untuk mengukur efektivitasnya terhadap bakteri. Hasilnya meyakinkan: tar menunjukkan aktivitas antibakteri positif terhadap Staphylococcus aureus.

Temuan Utama dari Uji Biologis:

  • Target Keberhasilan: Tar efektif melawan S. aureus, bakteri yang terkenal menyebabkan infeksi kulit dan luka.
  • Keterbatasan: Zat ini tidak sekuat antibiotik modern seperti Gentamisin dan tidak menunjukkan efektivitas terhadap Escherichia coli (E. coli).

  • Aplikasi: Mengingat hasil ini, para peneliti yakin tar kemungkinan besar digunakan secara khusus untuk mengobati kondisi kulit atau luka terbuka untuk mencegah infeksi.

Mengapa Ini Penting Saat Ini

Meskipun tar birch adalah zat prasejarah, sifat-sifatnya memiliki implikasi modern. Bakteri yang dilawannya, S. aureus, merupakan ancaman kesehatan global yang utama. Penyakit ini bertanggung jawab atas sekitar 500.000 rawat inap setiap tahunnya di Amerika Serikat dan semakin mampu mengembangkan resistensi terhadap semua jenis antibiotik modern.

“Temuan kami menunjukkan bahwa mungkin bermanfaat untuk mengkaji antibiotik yang ditargetkan dari konteks etnografi – atau, dalam hal ini, dari konteks prasejarah – secara lebih mendalam.” — Tjaark Siemssen, Penulis Utama

Penemuan ini menyoroti potensi sifat “siklus” kemajuan medis. Ketika pengobatan modern menghadapi tantangan yang semakin meningkat dari kuman super yang resistan terhadap antibiotik, penelitian terhadap zat-zat kuno yang signifikan secara etnografis dapat memberikan jalan baru bagi penemuan obat.


Kesimpulan
Dengan membuktikan bahwa Neanderthal menggunakan tar birch untuk sifat antibakterinya, penelitian ini menjembatani kesenjangan antara kelangsungan hidup prasejarah dan farmakologi modern, menunjukkan bahwa “perekat” kuno mungkin memegang kunci intervensi medis di masa depan.