Cara kita berduka sedang berubah. Seiring dengan kemajuan alat digital, beberapa orang beralih ke AI untuk mengatasi kehilangan, menciptakan “griefbots” – chatbot yang dilatih tentang kenangan, pesan, dan kepribadian orang-orang terkasih yang telah meninggal. Meskipun menawarkan jalan baru untuk penyembuhan, teknologi ini menimbulkan masalah etika dan psikologis yang mendalam yang memerlukan pertimbangan serius.
Bangkitnya Kebangkitan Digital
Roro, seorang pembuat konten di Tiongkok, mencari hiburan setelah kematian ibunya dengan membuat versi AI dirinya. Dengan menggunakan platform Xingye, dia dengan cermat mendokumentasikan kehidupan ibunya, mendefinisikan pola perilaku untuk menghidupkan kembali versi digital ibunya. Prosesnya sendiri menjadi terapi, memungkinkan Roro menafsirkan kembali masa lalunya dan menciptakan sosok yang lebih ideal.
“Saya menuliskan peristiwa-peristiwa besar dalam hidup yang membentuk kepribadian protagonis… Setelah Anda melakukannya, AI dapat menghasilkan respons dengan sendirinya,” jelasnya. Chatbot yang dihasilkan, Xia, memungkinkan pengikut Roro berinteraksi dengan gema digital ibunya, menawarkan kenyamanan melalui simulasi percakapan.
Cara Kerja Griefbots
“Bot kematian” ini mengandalkan model bahasa besar (LLM) yang dilatih pada data pribadi – email, teks, catatan suara, dan postingan media sosial. Perusahaan seperti You, Only Virtual di AS membuat chatbot yang meniru gaya percakapan orang yang sudah meninggal, sering kali disesuaikan dengan penampilan mereka di hadapan teman atau kerabat tertentu. Beberapa bot tetap statis, sementara yang lain berkembang melalui interaksi berkelanjutan, belajar, dan beradaptasi dengan informasi baru.
Hal ini menimbulkan pertanyaan kompleks: dapatkah AI memperkirakan perkembangan kepribadian manusia secara akurat? Apa dampak psikologis dari interaksi dengan entitas semacam itu terhadap mereka yang tertinggal?
Respon Regulasi
Administrasi Ruang Siber Tiongkok telah menanggapi kekhawatiran tersebut dengan mengusulkan peraturan baru untuk mengurangi dampak buruk emosional dari “layanan AI interaktif yang mirip manusia.” Potensi manipulasi, eksploitasi, dan tekanan psikologis mendorong perlunya pengawasan.
Dampak Psikologis: Menyembuhkan atau Membahayakan?
Pergeseran intinya adalah bagaimana kesedihan dialami. Tidak seperti meninjau surat-surat lama secara pasif, interaksi dengan AI generatif memperkenalkan elemen aktif dan dinamis. Roro merasakan proses penyembuhan yang mendalam, memungkinkannya mengutarakan perasaannya yang tak terucapkan dan menemukan penyelesaiannya.
Namun, tidak semua pengalaman itu positif. Jurnalis Lottie Hayton, yang kehilangan kedua orang tuanya pada tahun 2022, merasa bahwa menciptakan kembali mereka dengan AI meresahkan dan menyusahkan. Teknologinya belum cukup canggih untuk menciptakan simulasi yang meyakinkan, meremehkan ingatan aslinya alih-alih menghormatinya.
Ladang Ranjau yang Etis
Membuat deathbots menimbulkan pertanyaan etika yang serius:
- Persetujuan: Siapa yang memutuskan apakah seseorang harus dibangkitkan secara digital? Bagaimana jika kerabat tidak setuju?
- Tampilan Publik: Apakah keinginan seseorang untuk memiliki pendamping simbolis membenarkan menampilkan robot kematian di depan umum, yang berpotensi memperburuk kesedihan orang lain?
- Insentif Komersial: Perusahaan yang membuat bot ini didorong oleh keuntungan, sehingga menciptakan ketegangan antara kesejahteraan pengguna dan metrik keterlibatan. Chatbot yang dikunjungi kembali secara kompulsif mungkin merupakan kesuksesan bisnis, tetapi merupakan jebakan psikologis.
Jalan ke Depan
Munculnya kesedihan yang dimediasi oleh AI pada dasarnya tidak berbahaya. Bagi sebagian orang, ini menawarkan kenyamanan sejati. Namun, keputusan mengenai kebangkitan digital tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada startup dan pemodal ventura. Diperlukan aturan yang jelas mengenai persetujuan, penggunaan data, dan standar desain yang memprioritaskan kesejahteraan psikologis daripada keterlibatan tanpa akhir.
Pertanyaannya bukan sekedar jika AI harus membangkitkan orang mati, tapi siapa yang dapat melakukannya, dengan syarat apa, dan berapa biayanya.

































